Recents in Beach

SAAT TENANG TAK KUNJUNG DATANG: Mencari Sakinah di Jalan yang Tepat

 *SAAT TENANG TAK KUNJUNG DATANG: Mencari Sakinah di Jalan yang Tepat*




Oleh Kang Abdullah Syafii 


Dalam kehidupan modern hari ini, manusia seolah memiliki segalanya—harta, jabatan, relasi, bahkan kesempatan menjelajah dunia. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui banyak hati:


*Mengapa ketenangan tak kunjung datang?*


 *Ketenangan yang Keliru Dicari*


Banyak orang mengira bahwa ketenangan adalah hasil dari apa yang dimiliki:


* Rumah yang nyaman

* Kendaraan yang layak

* Pekerjaan dengan penghasilan tinggi

* Pasangan yang dicintai

* Lingkaran sosial yang ramai


Namun realita menunjukkan sesuatu yang berbeda.


Tidak sedikit yang memiliki semua itu…

tetapi tetap gelisah.


Tidak sedikit yang terlihat bahagia…

namun hatinya kosong.


Karena sejatinya, *kesenangan bukanlah ketenangan*.


Kesenangan bersifat sementara.

Ia datang dan pergi.


Sedangkan ketenangan…

ia menetap di dalam hati.


 *Sumber Ketenangan yang Hakiki*


Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya:


> “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin…”

> (Al-Qur'an Surah Al-Fath ayat 4)


Ayat ini memberi kita pemahaman mendasar:


**Ketenangan bukan hasil usaha manusia semata,

tetapi anugerah dari Allah.**


Ia bukan sekadar dicari…

tetapi diberikan.


 *Mengapa Hati Tidak Tenang?*


Jika hari ini hati terasa gelisah, bukan semata karena kurangnya dunia,

tetapi boleh jadi karena *hubungan dengan Allah belum terjaga*.


Allah ﷻ kembali menegaskan:


> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

> (Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd ayat 28)


Di sinilah letak jawabannya.


Bukan pada apa yang kita miliki,

tetapi pada *siapa yang kita dekatkan dalam hati kita*.


 *Pandangan Ulama tentang Ketenangan*


Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa:


> “Di dalam hati ada kekosongan yang tidak akan terisi kecuali dengan kedekatan kepada Allah.”


Artinya, sehebat apa pun dunia yang kita kumpulkan,

ia tidak akan mampu mengisi ruang hati yang kosong dari dzikir.


Sementara itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan:


> “Kebahagiaan sejati bukan pada kenikmatan dunia, tetapi pada ma’rifatullah (mengenal Allah).”


Maka jelas, ketenangan bukan persoalan materi,

melainkan persoalan *iman dan kedekatan spiritual*.


 *Teladan dari Orang-Orang Shalih*


Lihatlah kehidupan para salihin.


Mereka tidak selalu hidup dalam kemewahan,

bahkan banyak yang hidup sederhana.


Namun hati mereka tenang.


Ambil contoh Hasan al-Basri.


Beliau dikenal zuhud, hidup sederhana, tetapi penuh ketenangan. Ketika ditanya tentang rahasia ketenangan, beliau menunjukkan kedekatan yang luar biasa dengan Allah—malamnya diisi dengan ibadah, lisannya basah dengan dzikir.


Begitu pula Rabi'ah al-Adawiyah, yang tidak mengejar dunia, namun hatinya dipenuhi cinta kepada Allah. Dari cintanya itulah lahir ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.


 *Jalan Menuju Ketenangan*


Jika ketenangan belum hadir, maka bukan berarti kita harus menambah dunia,

tetapi memperbaiki arah hati.


Beberapa langkah yang diajarkan dalam Islam:


*1. Memperbanyak dzikir*

Mengingat Allah bukan hanya dengan lisan, tapi dengan kesadaran hati.


*2. Memperbaiki shalat*

Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi menghadirkan kekhusyukan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.”

> (Hadith about coolness of the eyes in prayer)


Ini menunjukkan bahwa shalat bukan beban,

tetapi sumber ketenangan.


*3. Berdoa dengan penuh harap*

Karena hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati.


 *Penutup: Kembali ke Sumbernya*


Pada akhirnya, kita harus jujur:


Jika dunia tidak pernah cukup menenangkan hati,

maka mungkin kita sedang mencarinya di tempat yang salah.


Ketenangan bukan tentang memiliki lebih banyak,

tetapi tentang *mendekat lebih dalam kepada Allah*.


Karena hanya dengan itu, hati menemukan rumahnya.


*Wallahu a’lam bish-shawab.*

Post a Comment

0 Comments