Orang yang Dicintai Allah SWT
Ketika Cinta Langit Turun ke Bumi
Oleh Kang Abdullah syafii
Dalam kehidupan dunia, manusia sering berlomba mencari cinta dan penghargaan dari sesama manusia. Ada yang mengejar popularitas, jabatan, kekayaan, bahkan pengakuan sosial agar dicintai dan dihormati. Namun sesungguhnya, kemuliaan terbesar bukanlah ketika manusia memuji kita, melainkan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kita.
Sebab jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka seluruh penduduk langit akan ikut mencintainya, dan cinta itu akan Allah turunkan ke bumi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril lalu berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Lalu diletakkan baginya penerimaan di bumi.”
> (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa cinta sejati bukan dibangun dengan pencitraan, melainkan dengan ketakwaan, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Sebab hati manusia berada dalam genggaman Allah. Maka ketika Allah ridha kepada seorang hamba, manusia pun akan dibuat condong mencintainya.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna “diterimanya seseorang di bumi” adalah Allah menanamkan rasa cinta di hati manusia kepada dirinya, sehingga manusia merasa nyaman, percaya, dan menghormatinya.
Siapakah Orang yang Dicintai Allah?
Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an beberapa golongan manusia yang dicintai-Nya.
1. Orang-Orang yang Bertakwa
Allah berfirman:
> “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”
> (QS. Ali ‘Imran: 76)
Takwa bukan hanya takut kepada Allah, tetapi juga menjaga diri agar tetap berada dalam batas-batas syariat-Nya. Orang bertakwa selalu berhati-hati dalam ucapan, perbuatan, dan niatnya. Ia takut menyakiti orang lain, takut berbuat zalim, dan takut hidup jauh dari Allah.
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang makna takwa. Beliau menjawab:
> “Takwa itu seperti berjalan di jalan yang penuh duri. Engkau berhati-hati agar pakaianmu tidak tersangkut.”
Begitulah kehidupan seorang mukmin. Ia hidup penuh kewaspadaan agar tidak tergelincir kepada dosa.
2. Orang yang Berbuat Baik (Muhsinin)
Allah SWT berfirman:
> “Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
> (QS. Al-Baqarah: 195)
Berbuat baik bukan hanya kepada keluarga dan sahabat, tetapi juga kepada orang yang membenci kita, kepada fakir miskin, bahkan kepada hewan dan alam sekalipun.
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbesar dalam ihsan. Ketika beliau dilempari batu di Thaif hingga berdarah, Malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif. Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
> “Jangan, aku berharap semoga dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.”
Inilah akhlak orang yang dicintai Allah: membalas keburukan dengan kebaikan.
3. Orang yang Bertaubat dan Mensucikan Diri
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
> (QS. Al-Baqarah: 222)
Allah tidak menuntut manusia menjadi makhluk tanpa dosa. Karena manusia memang tempat salah dan lupa. Namun Allah sangat mencintai hamba yang mau kembali, menyesali dosa, dan memperbaiki dirinya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
> “Tangisan orang yang bertaubat lebih dicintai Allah daripada tasbihnya orang yang ujub.”
Betapa banyak orang yang masa lalunya kelam, tetapi karena taubatnya yang sungguh-sungguh, Allah mengangkat derajatnya.
Contohnya adalah Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Dahulu beliau seorang perampok jalanan. Namun ketika mendengar ayat Allah:
> “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
> (QS. Al-Hadid: 16)
Beliau menangis, bertaubat, lalu berubah menjadi ulama besar yang sangat dicintai umat.
Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ
Allah SWT berfirman:
> “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
> (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini menjadi bukti bahwa jalan menuju cinta Allah adalah mengikuti Rasulullah ﷺ.
Bukan hanya mengaku cinta Nabi, tetapi juga meneladani:
* akhlaknya,
* kelembutannya,
* kesabarannya,
* kejujurannya,
* dan kasih sayangnya.
Orang yang mengikuti sunnah Nabi akan memancarkan ketenangan. Sebab hidupnya dibimbing cahaya wahyu, bukan hawa nafsu.
Orang yang Bertawakkal
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.”
> (QS. Ali ‘Imran: 159)
Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakkal adalah berikhtiar maksimal lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati ridha.
Para nabi adalah teladan tawakkal.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilempar ke dalam api, tetapi beliau berkata:
> “Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
> (Cukuplah Allah menjadi penolong kami.)
Nabi Musa ‘alaihissalam dikejar Fir’aun hingga di depan laut, namun beliau berkata:
> “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
> (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Orang yang bertawakkal tidak mudah panik, sebab ia yakin Allah tidak pernah meninggalkannya.
Orang yang Adil
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
> (QS. Al-Maidah: 42)
Adil bukan hanya urusan hakim atau pemimpin negara. Adil dimulai dari rumah:
* adil kepada pasangan,
* adil kepada anak,
* adil kepada tetangga,
* bahkan adil kepada diri sendiri.
Sayyidina Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil hingga pada masa pemerintahannya hampir tidak ditemukan orang yang mau menerima zakat karena rakyat hidup berkecukupan.
Keadilan menghadirkan keberkahan, sedangkan kezaliman menghancurkan kehidupan.
Tanda Dicintai Allah
Di antara tanda seorang hamba dicintai Allah adalah:
* dimudahkan melakukan kebaikan,
* hatinya lembut menerima nasihat,
* mencintai majelis ilmu dan dzikir,
* dijauhkan dari kesombongan,
* dan hidupnya membawa manfaat bagi orang lain.
Bukan berarti hidupnya tanpa ujian. Bahkan sering kali orang yang dicintai Allah justru diuji lebih berat agar derajatnya ditinggikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”
> (HR. Tirmidzi)
Penutup
Maka jangan terlalu sibuk mengejar agar dicintai manusia. Karena hati manusia mudah berubah. Hari ini memuji, esok bisa mencaci.
Tetapi kejarlah agar dicintai Allah. Karena ketika Allah mencintai seorang hamba:
* hidupnya menjadi berkah,
* hatinya dipenuhi ketenangan,
* langkahnya dimudahkan menuju kebaikan,
* dan namanya harum di bumi maupun di langit.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, dicintai penduduk langit, dan dicintai manusia karena iman dan akhlak yang baik.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


0 Comments