Recents in Beach

RIDHA DENGAN PILIHAN ALLAH SWT

 RIDHA DENGAN PILIHAN ALLAH SWT



Memahami Doa, Ijabah, dan Hikmah Takdir dalam Kehidupan


Oleh Kang Abdullah Syafii


Bismillāhirraḥmānirraḥīm


Di antara ujian terbesar seorang hamba adalah:


> ketika doa terasa lama terkabul.


Kita sudah:


* meminta,

* menangis,

* berharap,

* bahkan bersungguh-sungguh dalam munajat,

  namun apa yang diharapkan belum juga datang.


Pada titik itu,

setan mulai membisikkan:


* putus asa,

* kecewa,

* bahkan prasangka buruk kepada Allah SWT.


Padahal para ulama mengajarkan:


> keterlambatan terkabulnya doa bukan berarti Allah menolak doa kita.


Dalam kitab Al-Hikam disebutkan:


> “Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu, padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, membuatmu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin ijabah bagimu pada apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan pada apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.”


Subhanallah…


Kalimat ini mengajarkan satu hakikat besar:


> Allah pasti mengabulkan doa,

> tetapi:


* dengan cara-Nya,

* pilihan-Nya,

* dan waktu-Nya.


Doa adalah Ibadah


Allah SWT berfirman:


> “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”

> (QS. Ghafir: 60)


Ayat ini menunjukkan bahwa:


> doa bukan sekadar permintaan,

> tetapi bentuk penghambaan kepada Allah SWT.


Ketika seorang hamba berdoa,

sesungguhnya ia sedang mengakui:


* kelemahannya,

* kebutuhannya,

* dan ketergantungannya kepada Allah.


Karena itu doa adalah tanda iman.


Mengapa Doa Belum Terkabul?


Kadang manusia mengira:


> doa harus selalu sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Padahal Allah SWT lebih mengetahui:


* apa yang baik,

* apa yang buruk,

* dan kapan sesuatu layak diberikan.


Allah SWT berfirman:


> “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”

> (QS. Al-Baqarah: 216)


Manusia melihat dengan:


* keinginan,

* emosi,

* dan keterbatasan.


Sedangkan Allah melihat:


* masa depan,

* keselamatan,

* dan akhir kehidupan hamba-Nya.


Doa Tidak Pernah Sia-Sia


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara:

> dikabulkan segera,

> disimpan untuk akhirat,

> atau dihindarkan dari keburukan yang sebanding.”

> (HR. Ahmad)


Subhanallah…


Artinya:


> tidak ada doa yang benar-benar hilang.


Mungkin:


* belum diberikan sekarang,

* diganti dengan yang lebih baik,

* atau disimpan menjadi pahala besar di akhirat.


Hakikat Ridha kepada Pilihan Allah


Ridha bukan berarti:


* tidak sedih,

* tidak menangis,

* atau tidak punya harapan.


Tetapi:


> hati tetap percaya bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan diri sendiri.


Inilah maqam iman yang tinggi.


Seorang mukmin sejati lebih percaya:


> kepada hikmah Allah,

> daripada:

> kepada keinginannya sendiri.


Kisah Para Nabi Mengajarkan Kesabaran Doa


Moses dan Aaron pernah berdoa agar Fir’aun dibinasakan.


Allah menerima doa itu.


Namun kehancuran Fir’aun baru terjadi puluhan tahun kemudian.


Ini menunjukkan:


> antara doa dan terkabulnya doa kadang ada proses panjang yang penuh hikmah.


Demikian pula:


* Zechariah lama tidak memiliki anak,

* Job lama diuji penyakit,

* dan Jacob lama berpisah dengan Nabi Yusuf AS.


Tetapi mereka tidak pernah berhenti berharap kepada Allah SWT.


Jangan Terburu-buru dalam Doa


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: Aku sudah berdoa tetapi belum dikabulkan.”

> (HR. Bukhari dan Muslim)


Karena terburu-buru adalah tanda:


* lemahnya keyakinan,

* dan kurangnya kesabaran.


Padahal Allah menyukai hamba yang:


* terus mengetuk pintu-Nya,

* terus berharap,

* dan terus bergantung hanya kepada-Nya.


Kadang Ujian Itu Sendiri adalah Jawaban


Ada kalanya manusia meminta:


* kesehatan,

* kelapangan,

* atau kemudahan.


Namun Allah justru memberinya:


* sakit,

* kesulitan,

* atau ujian.


Mengapa?


Karena bisa jadi:


> ujian itulah jalan keselamatannya.


Para ulama salihin memahami bahwa:


> apa pun yang datang dari Allah pasti mengandung rahmat.


Abu al-Abbas al-Mursi pernah berkata ketika sakit:


> “Penderitaanku ini termasuk kesehatan.”


Maksudnya:


* sakit itu membersihkan dosa,

* melembutkan hati,

* dan mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.


Syarat Besar Diterimanya Doa


Allah SWT berfirman:


> “Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?”

> (QS. An-Naml: 62)


Doa yang paling kuat adalah doa dari hati yang:


* merasa lemah,

* merasa butuh,

* dan benar-benar bergantung kepada Allah SWT.


Karena ketika manusia merasa:


> tidak ada lagi tempat bergantung selain Allah,

> maka saat itu hatinya benar-benar hadir dalam doa.


Penutup


Ridha kepada pilihan Allah adalah tanda:


* kedewasaan iman,

* kedalaman tauhid,

* dan kuatnya keyakinan kepada Rabb semesta alam.


Maka jangan pernah putus asa dalam berdoa.


Jika doa belum terkabul:


* tetaplah berharap,

* tetaplah bersabar,

* dan tetaplah husnuzhan kepada Allah SWT.


Karena Allah tidak pernah terlambat.

Allah hanya memberi pada:


* waktu terbaik,

* cara terbaik,

* dan keadaan terbaik bagi hamba-Nya.


Boleh jadi yang kita anggap tertunda,

sebenarnya sedang dipersiapkan menjadi:


> rahmat yang lebih besar.


Semoga Allah SWT:


* menjadikan kita hamba yang sabar dalam menanti,

* ridha terhadap takdir-Nya,

* dan istiqamah mengetuk pintu doa hingga akhir hayat.


Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Post a Comment

0 Comments