JANGAN MENUNDA AMAL KEBAIKAN
Menunda Amal: Tanda Kelalaian Jiwa
Oleh Kang Abdullah Syafii
Al-Hikam memuat sebuah hikmah yang sangat mendalam:
> *اِحَالَتُكَ الأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الفَرَاغِ مِنْ رُعُونَاتِ النَّفْسِ*
"Menunda amal perbuatan karena menunggu waktu luang merupakan bagian dari kebodohan dan tipuan nafsu."
Banyak manusia menyadari pentingnya beribadah, berdzikir, menuntut ilmu, bersedekah, dan berbuat baik. Namun tidak sedikit yang berkata, "Nanti kalau pekerjaan sudah selesai," "Nanti kalau sudah pensiun," atau "Nanti kalau keadaan lebih tenang." Padahal waktu yang dinanti belum tentu datang, sedangkan kesempatan beramal bisa hilang kapan saja.
Imam Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa menunda amal dengan alasan menunggu kondisi yang sempurna adalah salah satu bentuk kelalaian jiwa. Sebab kehidupan dunia memang tidak pernah sepi dari kesibukan. Jika seseorang menunggu semua urusannya selesai terlebih dahulu, maka ia mungkin tidak akan pernah memulai amal kebaikan.
Mengapa Menunda Amal Termasuk Kebodohan?
1. Mengutamakan Dunia daripada Akhirat
Orang yang terus menunda amal sering kali tanpa sadar lebih mendahulukan urusan dunia dibanding urusan akhirat. Padahal Allah Ta'ala berfirman:
> "Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal."
>
>(QS. Al-A'la: 16-17)
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah yang sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi. Seorang mukmin yang bijak akan menjadikan dunia sebagai sarana untuk memperoleh kebahagiaan akhirat, bukan menjadikannya alasan untuk meninggalkan amal saleh.
2. Tidak Ada Jaminan Masih Hidup Esok Hari
Manusia tidak mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, menunda amal berarti mempertaruhkan kesempatan yang belum tentu diperoleh.
Allah berfirman:
> "Dan tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati."
>
>(QS. Luqman: 34)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> "Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."
>
>(HR. Al-Hakim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan adalah nikmat yang harus segera dimanfaatkan sebelum hilang.
3. Niat yang Baik Bisa Melemah
Niat dan semangat untuk beramal tidak selalu hadir setiap saat. Hari ini seseorang memiliki keinginan kuat untuk bertaubat, bersedekah, atau memperbaiki ibadahnya. Namun jika ditunda, bisa jadi semangat itu memudar.
Oleh karena itu para ulama salaf sering berkata:
> "Jika engkau memiliki kesempatan melakukan kebaikan, maka segeralah melakukannya. Sebab engkau tidak mengetahui apa yang akan terjadi sesudahnya."
Seorang penyair juga mengingatkan:
> "Janganlah engkau menunda hingga esok hari apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Waktu adalah permata yang sangat berharga."
Perintah Syariat untuk Berlomba dalam Kebaikan
Islam tidak hanya menganjurkan berbuat baik, tetapi juga menyuruh umatnya untuk bersegera melakukannya.
Allah berfirman:
> "Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan."
>
>(QS. Al-Baqarah: 148)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
> "Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi."
>
>(QS. Ali 'Imran: 133)
Kata "bersegera" menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak menunggu waktu yang ideal untuk taat, melainkan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Nasihat Para Ulama Tentang Waktu
Hasan Al-Bashri pernah berkata:
> "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dari dirimu."
Perkataan ini menunjukkan bahwa umur manusia terus berkurang. Setiap hari yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Imam Syafi'i berkata:
> "Waktu bagaikan pedang. Jika engkau tidak memotongnya (menggunakannya), maka ia akan memotongmu."
Maksudnya, waktu harus dimanfaatkan dengan amal saleh. Jika tidak, waktu akan berlalu sia-sia dan menjadi penyesalan di kemudian hari.
Teladan Para Salihin dalam Menyegerakan Amal
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu
Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai sahabat yang sangat cepat merespons seruan kebaikan. Ketika Rasulullah ﷺ mengajak bersedekah, beliau segera menginfakkan seluruh hartanya tanpa menunda-nunda.
Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu
Umar bin Khattab pernah berniat mengungguli Abu Bakar dalam sedekah. Namun setiap kali ada kesempatan beramal, Abu Bakar selalu lebih dahulu melakukannya. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Imam An-Nawawi Rahimahullah
Imam An-Nawawi terkenal sangat menjaga waktunya. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk belajar, mengajar, menulis, dan beribadah. Beliau memahami bahwa waktu yang berlalu tidak akan kembali.
Penutup
Menunda amal saleh adalah salah satu tipu daya nafsu yang sering tidak disadari. Setan tidak selalu mengajak manusia meninggalkan kebaikan, tetapi sering membisikkan, "Nanti saja." Padahal belum tentu ada hari esok bagi kita.
Karena itu, ketika muncul kesempatan untuk shalat, bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur'an, membantu sesama, menuntut ilmu, atau bertaubat, maka segeralah melakukannya. Jangan menunggu waktu luang, sebab kesibukan tidak akan pernah habis. Jangan menunggu hari esok, sebab ajal tidak pernah memberi kabar terlebih dahulu.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersegera dalam kebaikan, memanfaatkan setiap detik umur untuk taat kepada-Nya, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah. Aamiin.


0 Comments