Recents in Beach

Rahasia Pemberian dan Penolakan Allah SWT: Ketika Tidak Diberi Justru Merupakan Karunia

Rahasia Pemberian dan Penolakan Allah SWT: Ketika Tidak Diberi Justru Merupakan Karunia



Oleh Kang abdullah Syafii 


Pendahuluan


Dalam perjalanan hidup, manusia senantiasa dipenuhi harapan dan keinginan. Kita berdoa memohon rezeki, kesehatan, jabatan, pasangan hidup, kemudahan urusan, dan berbagai cita-cita lainnya. Ketika doa dikabulkan, hati merasa bahagia dan menganggapnya sebagai bukti kasih sayang Allah. Namun ketika permintaan tidak terpenuhi, sering kali muncul kekecewaan bahkan prasangka bahwa Allah tidak memperhatikannya.


Padahal para ulama dan ahli ma'rifat mengajarkan bahwa hakikat pemberian dan penolakan Allah tidak selalu sebagaimana yang tampak. Apa yang terlihat sebagai pemberian belum tentu merupakan karunia yang sesungguhnya, dan apa yang tampak sebagai penolakan bisa jadi merupakan rahmat yang sangat besar.


Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam:


> "Terkadang Allah memberimu, namun sebenarnya Dia menahanmu. Dan terkadang Dia menahanmu, namun sebenarnya Dia memberimu."


Pada hikmah berikutnya beliau mengatakan:


> "Apabila Allah membukakan bagimu pemahaman tentang rahasia penolakan-Nya, maka penolakan itu berubah menjadi hakikat pemberian."


Dua hikmah ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya melihat segala ketentuan Allah dengan mata iman, bukan hanya dengan pandangan hawa nafsu.


Tidak Semua Pemberian Adalah Kebaikan


Manusia cenderung mengukur nikmat dengan ukuran dunia. Harta yang banyak dianggap keberuntungan, jabatan dianggap kemuliaan, dan keberhasilan dunia dianggap tanda keridhaan Allah.


Padahal Allah berfirman:


> "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Tetapi apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku menghinakanku.' Sekali-kali tidak!"

>(QS. Al-Fajr: 15-17)


Ayat ini menegaskan bahwa kelapangan rezeki bukan selalu tanda kemuliaan, dan kesempitan bukan berarti kehinaan. Keduanya adalah ujian yang memiliki hikmah tersendiri.


Sering kali seseorang memperoleh apa yang diinginkannya, namun hal itu justru menjauhkannya dari Allah. Harta membuatnya sombong, jabatan membuatnya lalai, dan kesenangan dunia menjadikannya tenggelam dalam syahwat.


Allah SWT berfirman:


> "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

>(QS. Al-Baqarah: 216)


Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menilai suatu keadaan hanya dari kenikmatan lahiriahnya, tetapi harus melihat dampaknya terhadap iman dan kedekatannya kepada Allah.


Ketika Penolakan Menjadi Karunia


Tidak sedikit orang yang merasa sedih karena doanya belum dikabulkan. Padahal bisa jadi Allah sedang menyelamatkannya dari sesuatu yang membahayakan agamanya atau kehidupannya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> "Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga perkara: segera mengabulkan doanya, menyimpannya untuk akhirat, atau menghindarkan darinya keburukan yang sebanding dengannya."

>(HR. Ahmad)


Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Penolakan yang tampak sebenarnya bisa jadi merupakan bentuk pengabulan dengan cara yang lebih baik.


Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi berkata:


> "Apabila permintaanmu ditahan, hakikatnya engkau telah diberi. Dan apabila permintaanmu segera diberikan, boleh jadi engkau sedang dihalangi dari sesuatu yang lebih besar."


Maksudnya, Allah melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh hamba. Dia mengetahui masa depan, bahaya yang tersembunyi, dan akibat yang tidak disadari manusia.


Memahami Hikmah di Balik Takdir


Puncak kedewasaan spiritual seorang hamba adalah ketika ia mampu melihat hikmah Allah di balik setiap kejadian.


Allah SWT berfirman:


> "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

>(QS. An-Nisa': 19)


Saat Allah membuka hati seorang hamba untuk memahami hikmah tersebut, maka rasa kecewa berubah menjadi syukur, kegelisahan berubah menjadi ketenangan, dan penolakan terasa sebagai kasih sayang.


Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu tanda ma'rifat kepada Allah adalah ridha terhadap pengaturan-Nya, karena seorang hamba yakin bahwa pilihan Allah lebih sempurna daripada pilihannya sendiri.


Orang yang mengenal Allah tidak lagi beribadah karena Allah selalu mengabulkan keinginannya, tetapi karena ia percaya bahwa Allah selalu memilihkan yang terbaik baginya.


Teladan Para Salihin


Nabi Yusuf Alaihissalam


Ketika Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, peristiwa itu tampak sebagai musibah besar. Namun dari situlah dimulai perjalanan yang mengantarkannya menjadi penguasa Mesir dan penyelamat banyak manusia.


Apa yang tampak sebagai penolakan ternyata merupakan jalan menuju karunia yang lebih agung.


Nabi Musa Alaihissalam


Nabi Musa harus meninggalkan Mesir sebagai buronan. Secara lahiriah ia kehilangan keamanan dan kedudukan. Namun pengasingan itu justru menjadi persiapan untuk menerima wahyu dan diangkat sebagai rasul ulul azmi.


Umar bin Abdul Aziz


Khalifah yang terkenal adil ini pernah berkata:


> "Aku tidak pernah merasa gembira atas suatu keadaan selain apa yang telah Allah pilihkan untukku."


Beliau merasa bahagia bukan karena takdir selalu sesuai keinginannya, melainkan karena yakin bahwa pilihan Allah selalu terbaik.


Imam Ahmad bin Hanbal


Ketika mengalami penyiksaan dan penjara dalam peristiwa Mihnah, banyak orang menganggap beliau sedang ditimpa kesengsaraan. Namun ujian itu justru mengangkat derajat beliau di sisi Allah dan menjadikan namanya harum sepanjang sejarah Islam.


Tanda Kedekatan dengan Allah Bukan Sekadar Terkabulnya Doa


Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa terkabulnya doa pasti menunjukkan kedekatan dengan Allah, sementara tertundanya doa dianggap tanda kemurkaan-Nya.


Padahal para ulama menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan seorang hamba bukan pada banyaknya yang ia peroleh, melainkan pada tingkat ketakwaan dan kedekatannya kepada Allah.


Allah SWT berfirman:


> "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

>(QS. Al-Hujurat: 13)


Bahkan terkadang Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan juga kepada orang yang dibenci-Nya. Namun iman, hidayah, taufik, dan ma'rifat hanya diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya.


Penutup


Hakikat pemberian dan penolakan Allah tidak dapat diukur hanya dengan pandangan lahiriah. Terkadang Allah memberikan apa yang kita inginkan, tetapi hal itu menjauhkan kita dari-Nya. Sebaliknya, terkadang Allah menahan apa yang kita minta karena Dia sedang menyiapkan kebaikan yang lebih besar, menjaga agama kita, atau menyelamatkan kita dari keburukan yang tidak kita ketahui.


Ketika Allah membukakan pemahaman tentang rahasia takdir-Nya, seorang hamba akan menyadari bahwa setiap keputusan Allah adalah rahmat. Pada saat itulah penolakan berubah menjadi pemberian, ujian berubah menjadi kasih sayang, dan hati pun mencapai maqam ridha.


Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang mampu menerima segala ketentuan-Nya dengan penuh keyakinan, sehingga kita dapat merasakan manisnya tawakal dan indahnya ridha kepada-Nya. Aamiin.

Post a Comment

0 Comments