Cara Mengobati Hawa Nafsu Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah
Oleh Kang Abdullah Syafii
Dalam perjalanan menuju Allah, musuh yang paling dekat dan paling sulit dikalahkan bukanlah setan, bukan pula manusia lain, melainkan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri sendiri. Karena itulah para ulama tasawuf menempatkan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadatun nafs) sebagai salah satu jihad terbesar dalam kehidupan seorang mukmin.
Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari menjelaskan bahwa ketika hawa nafsu telah terasa manis dan nyaman di dalam hati, maka ia menjadi penyakit yang sangat sulit disembuhkan.
Hawa Nafsu yang Menetap dalam Hati adalah Penyakit Berat
Beliau berkata:
> "Rasa manisnya hawa nafsu yang telah menetap dalam hati adalah penyakit yang sulit diobati."
Hati pada hakikatnya adalah tempat bersemayamnya iman, yakin, dan ma'rifat kepada Allah. Jika hati dipenuhi kecintaan kepada syahwat dan kesenangan dunia yang berlebihan, maka ruang untuk cahaya iman menjadi sempit.
Allah berfirman:
> "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?"
>
>(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat menggeser posisi Allah dalam kehidupan seseorang. Ia tidak lagi mengikuti petunjuk wahyu, melainkan mengikuti apa yang disukai oleh dirinya sendiri.
Pangkal Kemaksiatan adalah Ridha kepada Nafsu
Para ulama menjelaskan:
> "Pokok segala maksiat, kelalaian, syahwat, dan kemusyrikan adalah ridha terhadap hawa nafsu."
Ketika seseorang selalu membenarkan keinginannya sendiri, ia akan sulit menerima nasihat, sulit tunduk kepada kebenaran, dan mudah terjerumus dalam dosa.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hawa nafsu ibarat kuda liar. Jika tidak dikendalikan, ia akan membawa penunggangnya menuju jurang kebinasaan.
Obat Hawa Nafsu: Takut dan Rindu kepada Allah
Ibnu Athaillah berkata:
> "Tidak ada yang dapat mengeluarkan syahwat dari hati kecuali rasa takut yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan."
Ada dua kekuatan besar yang dapat mengalahkan hawa nafsu:
1. Khauf (Takut kepada Allah)
Takut yang dimaksud bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan kesadaran mendalam akan kebesaran Allah dan dahsyatnya hisab di akhirat.
Allah berfirman:
> "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya."
>
>(QS. An-Nazi'at: 40-41)
Rasa takut ini lahir dari merenungkan:
* Kematian yang pasti datang.
* Alam kubur.
* Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
* Hari kiamat.
* Timbangan amal.
* Neraka dan siksa Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati."
>
>(HR. Tirmidzi)
2. Syauq (Rindu kepada Allah)
Selain takut, hati juga perlu dipenuhi kerinduan kepada Allah.
Kerinduan muncul ketika seseorang banyak merenungkan:
* Keindahan surga.
* Nikmat melihat Allah.
* Kedekatan dengan para nabi dan orang saleh.
* Kemuliaan orang-orang yang taat.
Allah berfirman:
> "Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya."
>
>(QS. Al-Bayyinah: 8)
Para arif billah mengatakan:
> "Siapa yang mengenal Allah, pasti akan mencintai-Nya. Dan siapa yang mencintai-Nya, pasti merindukan perjumpaan dengan-Nya."
Allah Tidak Menerima Hati yang Terbagi
Dalam hikmah berikutnya Ibnu Athaillah berkata:
> "Sebagaimana Allah tidak menyukai amal yang dipersekutukan, demikian pula Allah tidak menyukai hati yang dipersekutukan."
Artinya, sebagaimana amal yang bercampur riya tidak diterima, demikian pula hati yang masih bergantung kepada selain Allah tidak akan memperoleh kesempurnaan kedekatan dengan-Nya.
Allah berfirman dalam hadis qudsi:
> "Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dengan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu."
>
>(HR. Muslim)
Tiga Penyakit yang Merusak Amal
1. Riya'
Beramal agar dilihat manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil."
>
>Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu?"
>
>Beliau menjawab, "Riya'."
>
>(HR. Ahmad)
2. Tashannu'
Yaitu berpura-pura baik di hadapan manusia agar mendapatkan pujian dan penghormatan.
3. Ujub
Merasa bangga dengan amal sendiri.
Imam Abdullah bin al-Mubarak berkata:
> "Boleh jadi satu dosa membuat seseorang masuk surga, dan boleh jadi satu amal membuat seseorang masuk neraka."
Ketika ditanya maksudnya, beliau menjelaskan bahwa dosa dapat membuat seseorang terus bertaubat, sedangkan amal dapat membuat seseorang ujub dan sombong.
Contoh Para Salihin dalam Melawan Nafsu
Umar bin Khattab
Umar bin Khattab pernah berkata:
> "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."
Beliau adalah pemimpin besar, tetapi sering menangis ketika membaca ayat tentang azab Allah karena takut jika dirinya lalai.
Hasan Al-Bashri
Hasan al-Bashri berkata:
> "Tidaklah seorang mukmin memasuki pagi hari kecuali ia sedang mengadili dirinya."
Beliau selalu menuduh nafsunya sendiri dan tidak mudah merasa puas dengan amalnya.
Rabi'ah Al-Adawiyah
Rabi'ah al-Adawiyah dikenal dengan kecintaannya kepada Allah.
Beliau berdoa:
> "Ya Allah, jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku beribadah karena mengharap surga, haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku beribadah karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau halangi aku dari melihat-Mu."
Doa ini menggambarkan kerinduan yang mendalam kepada Allah yang mampu mengalahkan seluruh dorongan hawa nafsu.
Penutup
Hawa nafsu bukan untuk dimatikan, tetapi untuk ditundukkan agar mengikuti petunjuk Allah. Ketika hawa nafsu telah menjadi penguasa hati, ia menjadi penyakit yang berat. Namun Al-Hikam mengajarkan bahwa penyakit itu masih dapat disembuhkan dengan dua obat utama: *khauf (takut kepada Allah)* dan *syauq (rindu kepada Allah)*.
Semakin kuat rasa takut akan murka-Nya dan semakin besar kerinduan kepada ridha-Nya, semakin lemah kekuasaan hawa nafsu dalam diri seseorang. Pada akhirnya, tujuan seorang hamba bukan sekadar meninggalkan maksiat, melainkan mencapai keadaan hati yang hanya bergantung, berharap, mencintai, dan bersandar kepada Allah semata.
> "Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
>
>(QS. Ar-Ra'd: 28)


0 Comments