HIDUP PENUH MASALAH DAN HILANG MAKNA
Ketika Manusia Terlalu Sibuk Mengejar Maunya Sendiri
Oleh Kang Abdullah Syafii
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Banyak manusia merasa:
* hidupnya berat,
* pikirannya penuh,
* hatinya kosong,
* dan langkah hidupnya kehilangan arah.
Padahal secara dunia mungkin:
* pekerjaan ada,
* aktivitas banyak,
* hiburan tersedia,
* bahkan pencapaian terus bertambah.
Namun tetap saja:
> hati terasa lelah dan hidup kehilangan makna.
Mengapa?
Karena manusia sering hidup hanya untuk mengejar:
* apa yang ia mau,
* apa yang ia inginkan,
* dan apa yang memuaskan hawa nafsunya.
Padahal manusia tidak diciptakan untuk memenuhi seluruh maunya sendiri.
Manusia diciptakan untuk:
> memenuhi kehendak Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
> “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
> (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menjelaskan:
tujuan utama hidup manusia bukan:
* sekadar kaya,
* terkenal,
* dipuji,
* atau mendapatkan semua keinginan dunia.
Tetapi:
> menjadi hamba Allah.
Mengapa Banyak Keinginan Tidak Terwujud?
Karena hidup bukan surga.
Dunia memang tempat:
* ujian,
* ketidaksempurnaan,
* dan perjuangan.
Maka jika:
* harapan tidak tercapai,
* rencana gagal,
* dan keinginan tertunda,
seharusnya manusia tidak terlalu kaget.
Karena Allah tidak pernah berjanji:
> semua keinginan manusia akan dipenuhi.
Tetapi Allah berjanji:
> siapa yang dekat kepada-Nya akan diberikan ketenangan dan petunjuk.
Masalahnya,
manusia sering terlalu fokus pada:
> “Apa yang aku mau?”
Sampai lupa bertanya:
> “Apa yang Allah mau dari hidupku?”
Ketika Hidup Hanya Mengejar Dunia
Banyak manusia akhirnya:
* lelah,
* gelisah,
* iri,
* kecewa,
* bahkan kehilangan makna hidup.
Karena dunia tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia.
Ketika satu keinginan tercapai,
muncul keinginan berikutnya.
Ketika mendapatkan satu hal,
muncul rasa takut kehilangan.
Akhirnya hidup habis hanya untuk:
* mengejar,
* membandingkan,
* dan mengeluhkan apa yang belum dimiliki.
Padahal sering kali manusia lebih sibuk kecewa kepada keadaan,
daripada menyesali:
* shalat yang lalai,
* dzikir yang ditinggalkan,
* dan kewajiban kepada Allah yang belum ditunaikan.
Subhanallah…
Betapa mudah manusia kecewa karena dunia,
tetapi jarang sedih karena jauh dari Allah.
Dunia sebagai Tujuan Utama Membuat Hati Berantakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan di hadapannya…”
> (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Perhatikan…
bukan berarti orang itu miskin secara harta,
tetapi:
> miskin hati.
Selalu merasa:
* kurang,
* gelisah,
* tidak puas,
* dan takut kehilangan.
Karena hatinya menggantung kepada dunia.
Sebaliknya Rasulullah ﷺ melanjutkan:
> “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai niat utamanya maka Allah akan menghimpunkan urusannya dan menjadikan kekayaan dalam hatinya.”
Inilah kekayaan sejati:
> hati yang merasa cukup bersama Allah.
Fokus pada “Mau-Nya Allah”
Mungkin selama ini hidup terasa berat karena:
* terlalu banyak memikirkan keinginan pribadi,
tetapi terlalu sedikit memikirkan tugas sebagai hamba.
Padahal ketenangan hidup sering muncul ketika manusia mulai:
* ikhlas menjalani peran,
* menerima takdir,
* dan fokus pada kewajiban.
Bukan berarti tidak boleh punya cita-cita.
Islam tidak melarang:
* sukses,
* kaya,
* atau memiliki impian.
Tetapi semua itu harus tetap berada di bawah:
> ridha Allah SWT.
Karena hidup yang paling bermakna bukan hidup yang mendapatkan semua keinginan,
tetapi:
> hidup yang diridhai Allah.
Ubah Cara Pandang Hidup
Cobalah perlahan mengubah pola pikir:
Bukan:
* “Kenapa hidupku tidak sesuai maunya aku?”
Tetapi:
* “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari semua ini?”
Bukan:
* “Mengapa doaku belum terkabul?”
Tetapi:
* “Apa yang Allah sedang bentuk dalam diriku?”
Karena terkadang:
* kegagalan membuat manusia lebih dekat kepada Allah,
* kehilangan membuat manusia lebih sadar,
* dan kesulitan membuat manusia lebih rendah hati.
Hidup Bermakna Bukan Hidup Tanpa Masalah
Makna hidup bukan berarti:
* hidup tanpa ujian,
* tanpa sedih,
* atau tanpa air mata.
Tetapi:
> ketika semua itu membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.
Karena orang yang paling tenang bukan yang hidupnya paling mudah,
melainkan:
> yang paling yakin kepada Allah.
Penutup
Dunia memang penuh masalah.
Namun masalah terbesar manusia bukan sekadar kesulitan hidup,
tetapi:
> kehilangan arah dan makna hidup.
Maka jangan habiskan umur hanya mengejar:
* semua yang kita mau,
sementara lupa memenuhi:
* apa yang Allah mau.
Mulailah pelan-pelan:
* memperbaiki shalat,
* memperbanyak dzikir,
* menjaga hati,
* dan menjalani hidup dengan niat ibadah.
Karena ketika Allah menjadi tujuan utama,
maka hati akan lebih:
* tenang,
* lapang,
* dan bermakna.
Semoga Allah SWT:
* membimbing langkah hidup kita,
* memperbaiki hati kita,
* dan menjadikan hidup kita penuh keberkahan serta makna di dunia dan akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.


0 Comments