Recents in Beach

MARI MENANAM KEBAIKAN

 MARI MENANAM KEBAIKAN



Karena Apa yang Kita Tanam Hari Ini, Itulah yang Akan Kita Tuai Kelak


Oleh Kang Abdullah Syafii 


Bismillāhirraḥmānirraḥīm


Hidup ini ibarat ladang.


Apa yang ditanam hari ini,

itulah yang suatu saat akan dipanen.


Jika yang ditanam adalah:


* kejujuran,

* amanah,

* kesabaran,

* dan kebaikan,

  maka insyaAllah yang tumbuh adalah:

* keberkahan,

* kepercayaan,

* persaudaraan,

* dan ketenangan hidup.


Namun jika yang ditanam:


* dusta,

* kebencian,

* pengkhianatan,

* dan kezhaliman,

  maka jangan heran bila yang tumbuh adalah:

* permusuhan,

* kegelisahan,

* dan penyesalan.


Karena sunnatullah kehidupan mengajarkan:


> manusia akan menuai apa yang ia tanam.


Allah SWT berfirman:


> “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

> (QS. Az-Zalzalah: 7)


Ayat ini mengajarkan bahwa:


> tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.


 Menanam Amanah, Menuai Kepercayaan


Kepercayaan adalah salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan.


Namun kepercayaan tidak lahir tiba-tiba.


Ia tumbuh dari:


* kejujuran,

* tanggung jawab,

* dan amanah.


Rasulullah ﷺ dikenal dengan gelar:


> Al-Amīn — orang yang terpercaya.


Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi,

masyarakat sudah mempercayai beliau.


Karena amanah adalah fondasi kemuliaan.


Sebaliknya,

sekali seseorang mengkhianati amanah,

maka runtuhlah kehormatan dirinya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Tidak sempurna iman bagi orang yang tidak amanah.”

> (HR. Ahmad)


 Menanam Kebaikan, Menuai Persaudaraan


Kebaikan sekecil apa pun memiliki pengaruh besar.


Senyuman,

ucapan lembut,

membantu sesama,

atau sekadar mendoakan orang lain,

semuanya adalah benih-benih kebaikan.


Kadang manusia lupa:


> hati manusia dapat dilunakkan dengan akhlak yang baik.


Allah SWT berfirman:


> “Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.”

> (QS. Fussilat: 34)


Karena kebaikan memiliki kekuatan:


* menyatukan hati,

* meredam permusuhan,

* dan menghadirkan kasih sayang.


 Menanam Kesungguhan, Menuai Kesuksesan


Kesuksesan tidak lahir dari kemalasan.


Ia lahir dari:


* kesungguhan,

* kesabaran,

* dan perjuangan panjang.


Allah SWT berfirman:


> “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

> (QS. An-Najm: 39)


Ayat ini mengajarkan:


> hasil tidak akan mengkhianati proses.


Orang yang terus bersungguh-sungguh,

meski pelan,

akan lebih dekat kepada keberhasilan daripada orang yang hanya banyak keinginan tanpa perjuangan.


 Kebaikan Tidak Selalu Langsung Dipanen


Kadang manusia merasa:


* sudah berbuat baik,

* sudah membantu,

* sudah jujur,

  tetapi belum melihat hasilnya.


Jangan putus asa.


Karena tidak semua benih tumbuh seketika.


Ada kebaikan yang:


* Allah simpan untuk waktu terbaik,

* Allah jadikan penolong di masa sulit,

* atau Allah balas di akhirat kelak.


Allah SWT berfirman:


> “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

> (QS. At-Taubah: 120)


Subhanallah…


Tidak ada air mata kebaikan yang sia-sia.

Tidak ada lelah dalam amal shaleh yang terbuang.


Semua dicatat oleh Allah SWT.


 Mulailah dari yang Kecil


Sering kali manusia ingin melakukan hal besar,

hingga lupa memulai dari hal kecil.


Padahal gunung besar pun tersusun dari batu-batu kecil.


Maka jangan meremehkan:


* sedekah kecil,

* dzikir sederhana,

* membantu orang lain,

* atau menjaga lisan dari menyakiti.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Jangan meremehkan sedikit pun kebaikan.”

> (HR. Muslim)


Karena mungkin:


* satu kebaikan kecil menjadi sebab ampunan Allah,

* satu senyuman menjadi sebab persaudaraan,

* dan satu doa tulus menjadi pembuka keberkahan hidup.


 Hijrah dan Pengorbanan Tidak Pernah Sia-Sia


Allah SWT berfirman:


> “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik bagi mereka di dunia…”

> (QS. An-Nahl: 41)


Ayat ini mengajarkan:


> perjuangan di jalan Allah tidak akan sia-sia.


Kadang manusia harus:


* kehilangan kenyamanan,

* meninggalkan kebiasaan buruk,

* atau berjuang dalam kesulitan,

  demi mempertahankan kebaikan.


Namun Allah menjanjikan:


* pertolongan,

* keberkahan,

* dan balasan yang lebih besar.


Penutup


Mari terus menanam kebaikan,

meski sedikit,

meski pelan,

meski tidak selalu dihargai manusia.


Karena yang terpenting:


> Allah mengetahuinya.


Tanamlah:


* amanah agar tumbuh kepercayaan,

* kasih sayang agar tumbuh persaudaraan,

* dan kesungguhan agar tumbuh keberhasilan.


Mulailah:


* dari diri sendiri,

* dari hal kecil,

* dan dari hari ini.


Karena hidup yang indah bukan tentang:


* seberapa banyak yang dimiliki,

  tetapi:


> seberapa banyak kebaikan yang ditanam selama hidup di dunia.


Semoga Allah SWT:


* menerima amal ibadah kita,

* memberkahi langkah-langkah kita,

* dan menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam menanam kebaikan.


> Rabbanaa taqabbal minnaa innaka Antas-Samii‘ul ‘Aliim.


Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Post a Comment

0 Comments